Banyu Pinaruh
Banyu Pinaruh dirayakan setelah Rahina Saraswati. Banyu pinaruh berasal dari kata banyu yang artinya air (kehidupan), dan pinaruh yang berasal dari kata weruh atau pinih weruh. Weruh sendiri bermakna pengetahuan, sehingga dapat dikatakan banyu pinaruh adalah hari dimana kita memohon sumber air pengetahuan.
Banyu Pinaruh adalah hari dimana umat Hindu Dharma melaksanakan penyucian lahir dan batin. Mereka membawa sarana upakara berupa canang dan dupa untuk memohon punyucian lahir batin kepada Hyang Widhi agar segala kekotoran dilebur dan olehNya diberikan kesucian pikiran, jiwa dan raga. Selain itu Banyu Pinaruh merupakan hari pertama di tahun baru Pawukon.
Tahun yang perputarannya terdiri dari 210 hari yang diawali dengan wuku Sinta ini, ditandai dengan hari suci Banyu Pinaruh. Di hari ini, di saat matahari terbit, umat Hindu Dharma memuja kebesaranNya, memohon perlindungan dan kesucian jiwa raganya. Mereka melebur keletahan selama setahun kalender Bali di laut, di sungai, atau di danau, agar mereka memperoleh kekuatan untuk melangkah menyongsong hari-hari berikutnya dengan bijak.
bila di tempat kita tinggal ngga deket laut, sungai atau danau, atau cuaca/iklim ngga mengizinkan, maka Banyu Pinaruh bisa dilakukan di rumah saja, dengan mandi yang bersih. Sebelum mandi kita nunas kehadapan Hyang Widhi untuk diberikan kesucian lahir dan batin.
Setelah ritual di laut, sungai, danau dan sejenisnya selesai, kita keramas dengan memakai air kum-kuman, yakni air yang berisi berbagai bunga-bunga harum. Ritual ini menyimbulkan kesucian jiwa dan raga, agar harum laksana harum wewangin bunga, dan adem menyejukkan seperti air. Mandi di laut adalah untuk melebur kekotoran, yang kemudian dilanjutkan dengan keramas dan mesiram dengan air kumkuman adalah untuk menyucikan lahir dan batin. Setelah kita selesai, kita ngga boleh mandi atau membilas badan kita. Cukup berganti pakaian bersih, dan melaksanakan persembahyangan di Padmasana dan Merajan.
Di Merajan kita menghaturkan labaan kuning dan loloh, untuk kemudian disurud bersama ketika kita sudah selesai menghaturkannya. Titik-titik bara api terlihat jelas di tengah kegelapan. Sinarnya memantul di permukaan air. Sementara desiran angin laut yang dingin mampu menebar bau harum dupa. Samar-samar terlihat bayangan orang duduk bersila dan bersimpuh. Dengan khidmat kedua tangan dicakupkan di atas ubun-ubun, doa-doa pun dipanjatkan. Kemudian, mereka menghempaskan tubuhnya ke dalam air, mandi dan keramas. Ketika sinar merah tebersit di ufuk timur pakaian mereka yang basah tampak jelas dan orang-orang pun makin banyak yang datang lengkap dengan sesajen.
Terima kasih atas kunjungannya,semoga blog ini bermanfaat bagi kalian!
Terima kasih atas kunjungannya,semoga blog ini bermanfaat bagi kalian!

Suksma infonya
BalasHapusBagus infonya kakak
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusmantep
BalasHapus