Kajeng Kliwon
Rahinan Kajeng kliwon diperingati setiap 15 hari sekali yang pada saat itu kita menghaturkan segehan manca warna sebagaimana yang disebutkan dalam mitologi kajeng kliwon. Dalam mitologi tersebut juga dijelaskan maksud dan tujuan menghaturkan segehan manca warna ini yang merupakan perwujudan bhakti dan sradha kita kepada Hyang Siwa (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) yang telah mengembalikan (Somya) Sang Tiga Bhucari.
Rahinan Kajeng Kliwon dapat dibagi menjadi 3, yaitu:
- Kajeng Kliwon Uwudan (Kajeng Kliwon setelah bulan purnama)
- Kajeng Kliwon Enyitan (Kajeng kliwon setelah bulan mati /tilem)
- Kajeng Kliwon Pamelastali (Watugunung Runtuh,yang datang setiap 6 bulan sekali )
Rahinan kajeng kliwon diperingati sebagai hari turunnya para Bhuta untuk mencari orang yang tidak melaksanakan Dharma agama. Pada hari ini pula para Bhuta muncul menilai manusia yang melaksanakan dharma. Pada kajeng kliwon hendaknya menghaturkan segehan mancawarna, tetabuhannya adalah tuak atau arak berem. Di bagian atas, di ambang pintu gerbang (lebuh) harus dihaturkan canang burat wangi dan canang yasa.
Segehan dihaturkan di tiga tempat yang berbeda, yaitu halaman sanggah atau merajan, atau di depan pelinggih pangaruman, dan ini di tujukan pada Sang Bhuta Bhucari. Kemudian di halaman rumah atau pekarangan rumah tempat tinggal, ditujukan kepada Sang kala Bhucari. Kemudian yang terakhir adalah dihaturkan di depan pintu gerbang pekarangan rumah atau di luar pintu rumah yang terluar. Ini ditujukan kepada Sang Durga Bhucari.
Terima kasih atas kunjungannya,semoga blog ini bermanfaat bagi kalian!
Terima kasih atas kunjungannya,semoga blog ini bermanfaat bagi kalian!

Ohh begitu toh
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusNice info
BalasHapusoke
BalasHapus